Minggu, 01 Januari 2017

Pendekatan Pembinaan Agama pada Anak

Dalam pembinaan agama pada diri pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihan-latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.
Untuk membina agar anak-anak mempunyai sifat terpuji tidaklah mungkin dengan penjelasan saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan yang baik yang diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat-sifat itu, dan menjauhi sifat-sifat tercela. Kebiasaan dan latihan itulah yang membuat anak cenderung melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang kurang baik.
Demikian pula dengan pendidikan agama, semakin kecil umur anak, hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agama yang dilakukan pada anak, dan semakin bertambah umur anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan dan pengertian tentang agama itu sesuai dengan perkembangan yang dijelaskannya.
Pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada umumnya, terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik atau pembina yang pertama adalah orang tua, kemudian guru. Sikap anak terhadap agama dibentuk pertama kali di rumah melalui pengalaman yang didapat dari orang tuanya, kemudian dissempurnakan dan diperbaiki oleh guru disekolah maupun ditempat pengajian seperti masjid, mushola, TPQ dan madrasah diniyyah.
Latihan- latihan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, do’a, membaca al-Qur’an, sopan santun, dan lain sebagainya, semua itu harus dibiasakan sejak kecil, sehingga lama-kelamaan akan tumbuh rasa senang dan terbiasa dengan aktifitas tersebut tanpa ada rasa terbebani sedikitpun. Latihan keagamaan yang menyangkut akhlak dan sosial atau hubungan manusia dengan manusia yang sesuai dengan ajaran agama juga tidak hanya dijelaskan dengan kata-kata, latihan disini diberikan melalui perilaku yang terpuji, baik itu dari orang tua maupun guru, seperti pemberian sedekah kepada fakir miskin, berkurban, menolong terhadap sesama, dan sebagainya. Oleh karena itu guru agama mempunyai kepribadian yang dapat mencerminkan ajaran agama seperti apa yang diajarkan kepada anak didiknya.
Kepercayaan kepada Tuhan dan agama pada umumnya tumbuh melalui latihan dan pembiasaan sejak kecil, dengan kata lain pembiasaan dalam pendidikan pada anak sangat penting, terutama pembentukan pribadi akhlak dan agama pada umumnya. Hal itu dikarenakan pembiasaan-pembiasaan tersebut akan memasukkan unsur-unsur positif pada pribadi anak yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman agama yang didapatkanya melalui pembiasaan itu, maka akan banyak pula unsur-unsur agama dalam pribadinya, dan semakin mudah dia memahami sebuah ajaran agama yang akan dijelaskan oleh guru agamanya di kemudian hari.
Secara rinci, pembinaan agama kepada anak yang sesuai dengan sifat keberagamaan anak maka dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain:
1. Pembinaan agama lebih banyak bersifat pengalaman langsung seperti shalat berjamaah, bersedekah, zakat, berkurban, meramaikan hari raya dengan menggemakan takbir, dan lain sebagainya. Pengalaman agama secara langsung tersebut dapat ditambah dengan penjelasan sekedarnya saja atau pesan-pesan yang disampaikan melalui dongeng, cerita, main drama, nyanyian, permainan sehingga tidak membabani mental maupun pikiran mereka.
2. Kegiatan agama disesuaikan dengan kesenangan anak-anak, mengingat sifat agama masih bersifat egosentris. Sehingga model pembinaan agama bukan mengikuti kemauan orang tua maupun guru saja, melainkan harus dengan banyak variasi agar anak tidak bosan. Untuk itu, orang tua dan guru harus memiliki banyak ide dan kreativitas tentang strategi dan teknik pembinaan agama, sehingga setiap saat bisa berganti-ganti pendekatan dan metode walaupun materi yang disampaikan boleh jadi sama.
3. Pengalaman agama anak, selain didapat dari orang tua, guru dan teman-temannya, mereka juga belajar dari orang yang disekitarnya yang tidak mengajarinya secara langsung. Untuk itu pembinaan agama anak juga penting dilakukan melalui pembauran secara langsung dengan masyarakat luas yang terkait dengan kegiatan agama seperti waktu mengikuti sholat jum’at, tarawih, hari raya, maupun kegiatan lainnya. Dengan mengajak anak sekali waktu berbaur secara langsung dengan masyarakat yang melakukan peribadatan maka anak akan semakin termotivasi untuk menirukan perilaku-perilaku agama yang dilakukan oleh masyarakat umum. Hal ini perlu dilakukan mengingat agama anak masih bersifat anthromorphis.
4. Pembinaan agama kepada anak juga perlu dilakukan secara berulang-ulang melalui ucapan yang jelas serta tindakan secara langsung. Seperti mengajak anak shalat, maka terlebih dahulu diajarkan mengenai hafalan bacaan-bacaan shalat secara berulang-ulang hingga anak tersebut hafal diluar kepala. Hal tersebut diiringi dengan tindakan atau praktik sholat secara langsung dan akan lebih menarik jika dilakukan bersama teman-temannya. Setelah anak hafal tentang bacaan-bacaan sholat, maka seiring dengan bertambah usia, pengalaman, dan pengetahuannya barulah dijelaskan tentang syarat, rukun, serta hikmah shalat. Demikian pula pada pembinaan-pembinaan agama lainnya.
5. Mengingat sifat agama masih imitatif, maka pemberian contoh nyata dari orang tua guru dan masyarakat lingkungannya sangatlah penting. Untuk itu dalam proses pembinaan tersebut, perilaku orang tua maupun guru harus benar-benar dapat dicontoh anak baik secara ucapan maupun tindakan.
6. Perlunya melakukan kunjungan ke tempat-tempat atau pusat-pusat agama yang lebih besar kapasitasnya. Misalnya anak-anak yang tinggal di desa sesekali perlu diajak berkunjung ke masjid jami’ yang ada di kota yang bangunan-bangunan dan jumlah jama’ahnya lebih besar. Atau bisa juga anak diajak berkunjung ke pondok pesantren, kampus-kampus islam, dan lain sebagainya. Selain dengan kunjungan, anak dapat diajari tentang agama melalui layar kaca televisi ataupun VCD. Pembinaan dengan cara ini sangatlah penting mengingat rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak.
 
Sumber: http://hikmahuda.blogspot.co.id/2014/05/perkembangan-jiwa-agama-pada-masa-anak.html

Perkembangan Agama pada Anak

Melalui penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui  mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:
1.        The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
2.        The Ralistic Stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar. Pada masa ini, ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan pada anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu maka pada masa ini anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka.
3.        The Ralistic Stage (tingkat kenyataan)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu:
a)        Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
b)        Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c)        Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh factor entern yaitu perkembangan usia dan factor ekstern berupa pengaruh luar yang dialaminya.
 
Sumber:http://hikmahuda.blogspot.co.id/2014/05/perkembangan-jiwa-agama-pada-masa-anak.html

Filsafat Pendidikan

Pandangan fislafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menalaah sesautu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalran. Oleh karena itu antara filsafat dengan pendidikan sangat erat kaitannya, dimana filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra tersebut.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada flsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja
2. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam
3. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya
4. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan
Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seoran guru sebagai pendidik dia mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pda masalah pendiidkan pad aumumnya serta bagaimna amasalah itu mengganggu pada penyekolhan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurkulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengahrapkan dari ahli filsafat pendiidkan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutam adalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.
Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.

Sumber: https://van88.wordpress.com/filsafat-pendidikan/

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Filsafat dapat merangsang lahirnya keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan ilmu-ilmu. Hasil kerja filosofis dapat menjadi pembuka bagi lahirnya suatu ilmu, oleh karena itu filsafat disebut juga sebagai induk ilmu (mother of science). Untuk kepentingan perkembangan ilmu, lahir disiplin filsafat yang mengkaji ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai filsafat ilmu pengetahuan. Filsafat Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengtahuan ilmiah). Filsafat ilmu sangat berkaitan dengan ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu, dalam artian filsafat ilmu berusaha menjelaskan objek apa yang ditelaah ilmu, dengan proses apa ilmu diperoleh dan untuk apa ilmu itu dipergunakan.
Gerard Beekman dalam bukunya (1973) filsafat, para filsuf, berfilsafat menyatakan bahwa filsafat memainkan peranan dalam hubungannya dengan semua ilmu pengetahuan. Filsafat tidak harus mengirim imformasi dari sisi ilmu pengetahuan,  tapi harus memberikan ilmu pengetahuan. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan bahwa ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat.
Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah dua hal yang saling berhubungan. Secara historis, kelahiran ilmu pengetahuan berawal dari filsafat, begitu juga sebaliknya filsafat ilmu juga semakin berkembang seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini, pemikiran manusia juga mengalami perkembangan linear, dahulu masyarakat Yunani kuno mendasari pemikiran mereka dengan mitos, kemudian berkembang menjadi lebih rasional dengan paham teologi mereka, pemikiran inipun terus berkembang sampai melahirkan science dan teknologi yang dapat dirasakan manfaatnya sampai sekarang.
Ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Ilmu bersifat pasteriori. Kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang. Untuk kasus tertentu, ilmu bahkan menuntut untuk diadakannya percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Sedangkan filsafat bersifat priori, yakni; kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. Sebab filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti dimiliki ilmu. Karena filsafat bersifat spekulatif dan kontemplatif yang ini juga dimiliki ilmu.
Ilmu memiliki tugas melukiskan, sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta. Sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan kemana akhirnya. Berbagai gambaran di atas memperlihatkan bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan, namun di sisi yang lainnya ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan.
Sumber :
Slamet, Ibrahim, FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, Sekolah Farmasi ITB
2008

Kematian dan Kesalahpahaman

when-the-tree-dies
pic.pilpix.com
Oleh Reza A.A Wattimena
Masih teringat jelas di kepala saya, ketika saya diberikan penjelasan, bahwa Bobo, anjing kesayangan saya, meninggal. Saya masih kecil, dan belum sungguh paham, apa artinya, jika sesuatu itu meninggal. Apakah dia menghilang? Begitu pertanyaan saya.
Mbak Inah, pembantu di keluarga kami yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, hanya berkata, “Bobo sudah pergi ke surga, Sinyo.” Surga? Tempat apa itu. Yang saya tahu, bobo kini hidup di taman depan rumah kami bersama dengan pohon dan rumput yang tumbuh di situ.
Setelah itu, beragam peristiwa terkait dengan kematian mulai menjadi pertanyaan buat saya. Diawali dengan kematian kakek dari tetangga saya. Kami mengenalnya sebagai “Engkong baik hati” yang suka memberikan kue dan permen untuk kami, anak-anak kecil yang suka berlarian di depan rumahnya. Yang paling puncak dan memukul saya adalah kematian ayah saya yang begitu mendadak pada 2014 lalu.
Antara Ketakutan dan Harapan
Dihadapkan pada pertanyaan tentang kematian, banyak orang dikepung oleh ketakutan. Mereka membayangkan peristiwa perpisahan dengan apa yang mereka anggap berharga dalam hidup. Ada yang membayangkan neraka yang penuh dengan api panas, dan ada yang membayangkan surga yang penuh dengan buah manis. Kecemasan dan ketakutan terselip di balik dua bayangan itu.
Orang lalu terpaku untuk hidup sehat, guna memperlambat kematian. Mereka berolahraga dengan giat, serta terobsesi dengan segala macam program kesehatan, mulai dari diet ala Dedi Corbuzier sampai dengan membeli peralatan fitness pribadi untuk di rumah. Di balik segala usaha yang sekilas tampak mulia itu, sesungguhnya ada ketakutan yang tak pernah bisa dilepas.
Kita juga sedih dan takut, ketika mendengar berita kematian. Kita merasa sedih, ketika membaca berita kematian, akibat perang yang tak henti-hentinya di Timur Tengah. Kita merasa sedih, ketika mendengar, teman dekat atau saudara kita meninggal. Kematian mengundang beragam emosi yang seringkali sulit dikendalikan.
Ada juga yang melihat kematian sebagai harapan. Bagi mereka, hidup adalah penderitaan. Hidup dipenuhi dengan tantangan dan ketidakadilan. Maka, kematian lalu menjadi jalan keluar, guna mendapatkan keadaan yang lebih baik.
Namun, di balik ketakutan dan harapan, apa sesungguhnya kematian itu? Apakah ia ada? Apakah ia hanya sekedar konsep atau bayangan kita? Mengapa ia dipenuhi begitu banyak misteri yang mengundang kecemasan sekaligus harapan?
Perubahan dan Kesalingterkaitan
Jika kita bilang, bahwa sesuatu itu mati, kita secara tidak langsung menyatakan, bahwa sesuatu itu berakhir. Ada titik yang mengakhiri keberadaannya. Ada keterputusan antara yang “ada”, dan menjadi yang “tiada”. Namun, apakah sesuatu itu pernah sungguh berakhir?
Bobo, anjing saya, kini menyatu dengan pohon, rumput serta buah di taman depan kami yang kecil. Abu jenazah dari “Engkong yang baik hati” kini tersebar di lautan di dekat Pantai Ancol. Abu ayah saya kini menyatu bersama ikan dan beragam mahluk hidup lainnya di laut Jawa.
Mereka tidak berakhir. Mereka bergerak lanjut. Mereka berubah. Mereka memperkaya kehidupan. Mereka tidak terputus. Mereka tidak “mati”.
Salah satu hukum utama di dalam fisika modern adalah hukum kekekalan energi. Isinya menegaskan, bahwa energi tidak bisa musnah. Ia hanya bisa berubah. Mereka yang “mati” tidaklah berakhir, melainkan berubah, dan memperkaya kehidupan semesta.
Di dalam Filsafat Timur, keberadaan (existence) selalu terkait dengan perubahan (impermanence) dan kesalingterkaitan (interdependence). Artinya, keberadaan kita tidaklah pernah tetap. Ia selalu berubah sejalan dengan perubahan segala hal yang ada di semesta. Kita juga tidak pernah sendirian, melainkan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari segala yang ada di alam semesta ini.
Kesalahpahaman
Belajar dari fisika modern dan filsafat Timur, kita bisa bilang, bahwa kematian itu tidak ada. Ketika orang “mati”, tubuh dan energinya bergerak terus memperkaya kehidupan semesta yang selalu menjadi bagian dari dirinya. Kita tidak pernah berakhir. Tidak ada titik dan kata putus di dalam keberadaan kita.
Kematian, dengan demikian, adalah kesalahpahaman. Kematian adalah konsep yang lahir dari kesalahan berpikir. Sejatinya, senyatanya, kita tidak pernah mati, dan kita tidak pernah lahir. Kita selalu ada di alam semesta ini dengan segala bentuk yang kita gunakan, dan selalu dalam hubungan dengan segala hal yang ada.
Bobo, anjing saya tercinta, kini menjadi buah yang siap dimakan, ketika musimnya tiba. Ayah saya kini menjadi bagian dari lingkungan laut yang juga tak bisa dipisahkan dari kehidupan lainnya. Semuanya saling terhubung dan tak terpisahkan. Kita adalah mereka.
Namun, senyatanya, tidak ada kita. Tidak ada mereka. Semua hanyalah konsep. Senyatanya, kita semua satu dan sama. Tak ada mati. Tak ada hidup. Tak ada gerak. Tak ada perubahan. Tak ada keterpisahan. Tak ada perpisahan. Mungkin sebaiknya, kita menari….

Apa yang Sesungguhnya Ada


silvieandmaryl.com
silvieandmaryl.com

Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya
Sejak awal keberadaannya, manusia ingin memahami dunianya. Ia juga ingin memahami dirinya sendiri. Dorongan ini bersifat alamiah. Ia akan selalu ada, selama manusia masih hidup.
Memahami dunia berarti mengamati dunia apa adanya. Mengamati dunia apa adanya berarti mengamati dunia di dalam perubahannya. Segala sesuatu terus berubah, tanpa henti. Kita tak akan pernah menginjakkan kaki di sungai yang sama, begitu kata Herakleitos, filsuf Yunani Kuno.
Apa yang kita lihat sekarang bukanlah yang kita lihat sebelumnya. Setiap tujuh tahun, tubuh manusia berganti sepenuhnya. Ia menjadi manusia yang sama sekali baru. Yang sama dari manusia itu dengan manusia sebelumnya hanyalah namanya.
Apa yang kita anggap tetap dan akan memuaskan kita pada akhirnya akan berubah, dan lenyap dari muka bumi ini. Apa yang kita perolah akan berubah, dan akan lenyap. Apa yang kita pegang erat-erat juga akan berubah. Apa yang kita perjuangkan dengan seluruh hidup kita akan hilang ditelan angin.
Memahami kenyataan di dalam perubahannya berarti juga memahami alam di dalam keterhubungannya. Segala hal saling terhubung satu sama lain. Hukum-hukum fisika yang bekerja, ketika kita mengangkat tangan kita, sama dengan hukum-hukum fisika yang menggerakan meteor di ruang angkasa nan jauh disana. Perbedaan hanya merupakan ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita yang terbatas.
Kotoran bagi satu mahluk adalah makanan bagi mahluk lain. Apa yang dianggap menjijikan oleh manusia justru menjadi rumah bagi peradaban serangga atau tumbuhan tertentu. Lingkaran saling keterhubungan adalah bentuk dari alam semesta kita. Tidak ada yang suci dan tidak suci, karena semuanya saling membutuhkan satu sama lain.
Kenyataan juga tidak memiliki konsep. Kenyataan adalah apa adanya, just as it is. Ia tidak memiliki nama. Kata “kenyataan” juga sebenarnya salah kaprah. Ia membuat aliran perubahan seolah-oleh menjadi tetap, dan bisa disebut sebagai “kenyataan”.
Konsep membuat sesuatu tampak tetap. Padahal, sejatinya, segala hal terus berubah, tiap detik, tanpa henti. Konsep bukanlah kenyataan. Bahkan seringkali, ia menghalangi kita untuk memahami kenyataan.
Salah satu konsep yang paling banyak digunakan manusia adalah konsep “awal dan akhir”. Di dalam alam, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Segalanya berubah, bergerak. Apa yang kita sebut sebagai “awal” dan “akhir” juga merupakan sebuah perubahan yang tak istimewa.
Jika tak ada awal dan akhir, maka tidak ada hidup dan mati. Hidup dan mati hanyalah sebentuk perubahan. Pikiran kitalah yang mencapnya sebagai sesuatu yang penting. Alam semesta itu sejatinya tidak pernah hidup dan tidak pernah mati. Ia juga tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Ia hanya ada, dan terus ada.
“Awal-akhir”, “hidup-mati”, itu adalah konsep-konsep di dalam pikiran kita. Kita lalu melekat pada konsep-konsep itu. Kebahagiaan kita menjadi tergantung padanya. Jika sesuatu hidup atau dimulai, kita senang. Sebaliknya, jika sesuatu berakhir atau mati, kita lalu sedih. Ini adalah ilusi dari pikiran kita.
Ketika orang mati, tubuhnya menjadi bangkai di tanah. Rumput dan tanaman tumbuh subur di tanah yang berisi bangkai. Sapi lalu memakan rumput itu, lalu manusia memotong mati untuk lauk pauk di meja makannya. Inilah lingkaran kehidupan yang tak mengenal awal dan akhir, mati dan hidup.
Dalam arti ini, dapat juga dikatakan, bahwa seluruh alam ini adalah satu kesatuan. Tidak ada perbedaan. Semua terhubung, dan tidak hanya itu, semua adalah satu. Butiran pasir di pantai dan bintang raksasa yang berukuran ratusan kali lebih besar dari matahari adalah satu dan sama.
Argumen ini didukung oleh penemuan terbaru di dalam fisika. Komponen terkecil alam semesta adalah satu dan sama. Antara semut dan gajah tidak ada perbedaan, ketika kita melihat komponen terkecilnya. Perbedaan hanya tampak di mata dan pikiran kita.
Kesatuan ini ditunjang oleh harmoni di dalam alam semesta. Harmoni berarti segala sesuatu memiliki tatanan tertentu. Ada hukum-hukum alam yang mengatur segalanya. Tidak pernah ada chaos dan kekacauan, sebagaimana dibayangkan oleh manusia.
Sayangnya, banyak orang tak paham akan hal ini. Mereka menganggap, apa yang mereka punya akan tetap dan abadi. Mereka lalu melekat pada harta, ambisi dan nama besar. Mereka juga mengira, diri mereka abadi dan tetap. Tak heran, mereka hidup dalam penderitaan.
Mereka juga hidup dalam delusi. Mereka mengira, kematian adalah akhir. Lalu, mereka marah, takut serta sedih, ketika orang yang mereka sayangi meninggal. Mereka juga berusaha untuk bisa hidup sehat dan awet muda, serta berusaha untuk menghindari kematian. Usaha yang sejatinya sia-sia.
Banyak orang juga berambisi untuk memulai sesuatu. Lalu, mereka melekat pada ambisi dan pada sesuatu itu. Ambisi membutakan mata mereka. Padahal, itu pun juga sejatinya akan berakhir.
Orang yang hidup dalam delusi berarti hidup dalam penderitaan. Mereka melekat dan memegang erat hal-hal yang sejatinya terus berubah. Mereka mengira, bahwa pikiran dan konsep-konsep mereka adalah kenyataan. Mereka juga takut pada kematian dan usia tua.
Orang yang menderita akan cenderung membuat orang lain menderita. Penderitaan kolektif akan mendorong konflik antar kelompok. Perang antar negara juga bisa terjadi, karena penderitaan batin yang amat besar dari kedua belah pihak yang berperang. Perdamaian dunia tidak akan pernah tercapai, jika orang masih terjebak di dalam delusinya masing-masing.
Bagaimana kita membangun sikap hidup yang tepat dengan berpijak sebagaimana adanya? Bagaimana kita bisa melepaskan segala harapan kosong dan pikiran-pikiran delusional yang menutupi mata kita dari dunia apa adanya? Inilah pertanyaan yang menjadi pergulatan filsafat Yunani Kuno dan filsafat Timur. Bagaimana kita bisa melepaskan konsep-konsep pikiran kita, dan kemudian hidup mengalir mengikuti perubahan semesta?

Kebebasan sebagai eksistensi manusia, apa argumennya


  • Manusia hidup dalam "kemungkinan dapat", dan selalu berhadapan dengan pilihan berbeda yang memiliki bobot masing-masing
  • Adanya tanggung jawab. Bagaimana bila semua orang melakukan semaunya sendiri? Hanya mereka yang bebaslah yang dapat bertanggung jawab.
  • Makna perbuatan moral ada pada kebebasan


Sumber : http://hendrahosen.blogspot.co.id/2014/09/kebebasan.html