Minggu, 01 Januari 2017

Filsafat Pendidikan

Pandangan fislafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menalaah sesautu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalran. Oleh karena itu antara filsafat dengan pendidikan sangat erat kaitannya, dimana filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra tersebut.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada flsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja
2. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam
3. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya
4. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan
Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seoran guru sebagai pendidik dia mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pda masalah pendiidkan pad aumumnya serta bagaimna amasalah itu mengganggu pada penyekolhan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurkulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengahrapkan dari ahli filsafat pendiidkan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutam adalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.
Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.

Sumber: https://van88.wordpress.com/filsafat-pendidikan/

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Filsafat dapat merangsang lahirnya keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan ilmu-ilmu. Hasil kerja filosofis dapat menjadi pembuka bagi lahirnya suatu ilmu, oleh karena itu filsafat disebut juga sebagai induk ilmu (mother of science). Untuk kepentingan perkembangan ilmu, lahir disiplin filsafat yang mengkaji ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai filsafat ilmu pengetahuan. Filsafat Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengtahuan ilmiah). Filsafat ilmu sangat berkaitan dengan ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu, dalam artian filsafat ilmu berusaha menjelaskan objek apa yang ditelaah ilmu, dengan proses apa ilmu diperoleh dan untuk apa ilmu itu dipergunakan.
Gerard Beekman dalam bukunya (1973) filsafat, para filsuf, berfilsafat menyatakan bahwa filsafat memainkan peranan dalam hubungannya dengan semua ilmu pengetahuan. Filsafat tidak harus mengirim imformasi dari sisi ilmu pengetahuan,  tapi harus memberikan ilmu pengetahuan. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan bahwa ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat.
Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah dua hal yang saling berhubungan. Secara historis, kelahiran ilmu pengetahuan berawal dari filsafat, begitu juga sebaliknya filsafat ilmu juga semakin berkembang seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini, pemikiran manusia juga mengalami perkembangan linear, dahulu masyarakat Yunani kuno mendasari pemikiran mereka dengan mitos, kemudian berkembang menjadi lebih rasional dengan paham teologi mereka, pemikiran inipun terus berkembang sampai melahirkan science dan teknologi yang dapat dirasakan manfaatnya sampai sekarang.
Ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Ilmu bersifat pasteriori. Kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang. Untuk kasus tertentu, ilmu bahkan menuntut untuk diadakannya percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Sedangkan filsafat bersifat priori, yakni; kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. Sebab filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti dimiliki ilmu. Karena filsafat bersifat spekulatif dan kontemplatif yang ini juga dimiliki ilmu.
Ilmu memiliki tugas melukiskan, sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta. Sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan kemana akhirnya. Berbagai gambaran di atas memperlihatkan bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan, namun di sisi yang lainnya ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan.
Sumber :
Slamet, Ibrahim, FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, Sekolah Farmasi ITB
2008

Kematian dan Kesalahpahaman

when-the-tree-dies
pic.pilpix.com
Oleh Reza A.A Wattimena
Masih teringat jelas di kepala saya, ketika saya diberikan penjelasan, bahwa Bobo, anjing kesayangan saya, meninggal. Saya masih kecil, dan belum sungguh paham, apa artinya, jika sesuatu itu meninggal. Apakah dia menghilang? Begitu pertanyaan saya.
Mbak Inah, pembantu di keluarga kami yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, hanya berkata, “Bobo sudah pergi ke surga, Sinyo.” Surga? Tempat apa itu. Yang saya tahu, bobo kini hidup di taman depan rumah kami bersama dengan pohon dan rumput yang tumbuh di situ.
Setelah itu, beragam peristiwa terkait dengan kematian mulai menjadi pertanyaan buat saya. Diawali dengan kematian kakek dari tetangga saya. Kami mengenalnya sebagai “Engkong baik hati” yang suka memberikan kue dan permen untuk kami, anak-anak kecil yang suka berlarian di depan rumahnya. Yang paling puncak dan memukul saya adalah kematian ayah saya yang begitu mendadak pada 2014 lalu.
Antara Ketakutan dan Harapan
Dihadapkan pada pertanyaan tentang kematian, banyak orang dikepung oleh ketakutan. Mereka membayangkan peristiwa perpisahan dengan apa yang mereka anggap berharga dalam hidup. Ada yang membayangkan neraka yang penuh dengan api panas, dan ada yang membayangkan surga yang penuh dengan buah manis. Kecemasan dan ketakutan terselip di balik dua bayangan itu.
Orang lalu terpaku untuk hidup sehat, guna memperlambat kematian. Mereka berolahraga dengan giat, serta terobsesi dengan segala macam program kesehatan, mulai dari diet ala Dedi Corbuzier sampai dengan membeli peralatan fitness pribadi untuk di rumah. Di balik segala usaha yang sekilas tampak mulia itu, sesungguhnya ada ketakutan yang tak pernah bisa dilepas.
Kita juga sedih dan takut, ketika mendengar berita kematian. Kita merasa sedih, ketika membaca berita kematian, akibat perang yang tak henti-hentinya di Timur Tengah. Kita merasa sedih, ketika mendengar, teman dekat atau saudara kita meninggal. Kematian mengundang beragam emosi yang seringkali sulit dikendalikan.
Ada juga yang melihat kematian sebagai harapan. Bagi mereka, hidup adalah penderitaan. Hidup dipenuhi dengan tantangan dan ketidakadilan. Maka, kematian lalu menjadi jalan keluar, guna mendapatkan keadaan yang lebih baik.
Namun, di balik ketakutan dan harapan, apa sesungguhnya kematian itu? Apakah ia ada? Apakah ia hanya sekedar konsep atau bayangan kita? Mengapa ia dipenuhi begitu banyak misteri yang mengundang kecemasan sekaligus harapan?
Perubahan dan Kesalingterkaitan
Jika kita bilang, bahwa sesuatu itu mati, kita secara tidak langsung menyatakan, bahwa sesuatu itu berakhir. Ada titik yang mengakhiri keberadaannya. Ada keterputusan antara yang “ada”, dan menjadi yang “tiada”. Namun, apakah sesuatu itu pernah sungguh berakhir?
Bobo, anjing saya, kini menyatu dengan pohon, rumput serta buah di taman depan kami yang kecil. Abu jenazah dari “Engkong yang baik hati” kini tersebar di lautan di dekat Pantai Ancol. Abu ayah saya kini menyatu bersama ikan dan beragam mahluk hidup lainnya di laut Jawa.
Mereka tidak berakhir. Mereka bergerak lanjut. Mereka berubah. Mereka memperkaya kehidupan. Mereka tidak terputus. Mereka tidak “mati”.
Salah satu hukum utama di dalam fisika modern adalah hukum kekekalan energi. Isinya menegaskan, bahwa energi tidak bisa musnah. Ia hanya bisa berubah. Mereka yang “mati” tidaklah berakhir, melainkan berubah, dan memperkaya kehidupan semesta.
Di dalam Filsafat Timur, keberadaan (existence) selalu terkait dengan perubahan (impermanence) dan kesalingterkaitan (interdependence). Artinya, keberadaan kita tidaklah pernah tetap. Ia selalu berubah sejalan dengan perubahan segala hal yang ada di semesta. Kita juga tidak pernah sendirian, melainkan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari segala yang ada di alam semesta ini.
Kesalahpahaman
Belajar dari fisika modern dan filsafat Timur, kita bisa bilang, bahwa kematian itu tidak ada. Ketika orang “mati”, tubuh dan energinya bergerak terus memperkaya kehidupan semesta yang selalu menjadi bagian dari dirinya. Kita tidak pernah berakhir. Tidak ada titik dan kata putus di dalam keberadaan kita.
Kematian, dengan demikian, adalah kesalahpahaman. Kematian adalah konsep yang lahir dari kesalahan berpikir. Sejatinya, senyatanya, kita tidak pernah mati, dan kita tidak pernah lahir. Kita selalu ada di alam semesta ini dengan segala bentuk yang kita gunakan, dan selalu dalam hubungan dengan segala hal yang ada.
Bobo, anjing saya tercinta, kini menjadi buah yang siap dimakan, ketika musimnya tiba. Ayah saya kini menjadi bagian dari lingkungan laut yang juga tak bisa dipisahkan dari kehidupan lainnya. Semuanya saling terhubung dan tak terpisahkan. Kita adalah mereka.
Namun, senyatanya, tidak ada kita. Tidak ada mereka. Semua hanyalah konsep. Senyatanya, kita semua satu dan sama. Tak ada mati. Tak ada hidup. Tak ada gerak. Tak ada perubahan. Tak ada keterpisahan. Tak ada perpisahan. Mungkin sebaiknya, kita menari….

Apa yang Sesungguhnya Ada


silvieandmaryl.com
silvieandmaryl.com

Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya
Sejak awal keberadaannya, manusia ingin memahami dunianya. Ia juga ingin memahami dirinya sendiri. Dorongan ini bersifat alamiah. Ia akan selalu ada, selama manusia masih hidup.
Memahami dunia berarti mengamati dunia apa adanya. Mengamati dunia apa adanya berarti mengamati dunia di dalam perubahannya. Segala sesuatu terus berubah, tanpa henti. Kita tak akan pernah menginjakkan kaki di sungai yang sama, begitu kata Herakleitos, filsuf Yunani Kuno.
Apa yang kita lihat sekarang bukanlah yang kita lihat sebelumnya. Setiap tujuh tahun, tubuh manusia berganti sepenuhnya. Ia menjadi manusia yang sama sekali baru. Yang sama dari manusia itu dengan manusia sebelumnya hanyalah namanya.
Apa yang kita anggap tetap dan akan memuaskan kita pada akhirnya akan berubah, dan lenyap dari muka bumi ini. Apa yang kita perolah akan berubah, dan akan lenyap. Apa yang kita pegang erat-erat juga akan berubah. Apa yang kita perjuangkan dengan seluruh hidup kita akan hilang ditelan angin.
Memahami kenyataan di dalam perubahannya berarti juga memahami alam di dalam keterhubungannya. Segala hal saling terhubung satu sama lain. Hukum-hukum fisika yang bekerja, ketika kita mengangkat tangan kita, sama dengan hukum-hukum fisika yang menggerakan meteor di ruang angkasa nan jauh disana. Perbedaan hanya merupakan ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita yang terbatas.
Kotoran bagi satu mahluk adalah makanan bagi mahluk lain. Apa yang dianggap menjijikan oleh manusia justru menjadi rumah bagi peradaban serangga atau tumbuhan tertentu. Lingkaran saling keterhubungan adalah bentuk dari alam semesta kita. Tidak ada yang suci dan tidak suci, karena semuanya saling membutuhkan satu sama lain.
Kenyataan juga tidak memiliki konsep. Kenyataan adalah apa adanya, just as it is. Ia tidak memiliki nama. Kata “kenyataan” juga sebenarnya salah kaprah. Ia membuat aliran perubahan seolah-oleh menjadi tetap, dan bisa disebut sebagai “kenyataan”.
Konsep membuat sesuatu tampak tetap. Padahal, sejatinya, segala hal terus berubah, tiap detik, tanpa henti. Konsep bukanlah kenyataan. Bahkan seringkali, ia menghalangi kita untuk memahami kenyataan.
Salah satu konsep yang paling banyak digunakan manusia adalah konsep “awal dan akhir”. Di dalam alam, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Segalanya berubah, bergerak. Apa yang kita sebut sebagai “awal” dan “akhir” juga merupakan sebuah perubahan yang tak istimewa.
Jika tak ada awal dan akhir, maka tidak ada hidup dan mati. Hidup dan mati hanyalah sebentuk perubahan. Pikiran kitalah yang mencapnya sebagai sesuatu yang penting. Alam semesta itu sejatinya tidak pernah hidup dan tidak pernah mati. Ia juga tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Ia hanya ada, dan terus ada.
“Awal-akhir”, “hidup-mati”, itu adalah konsep-konsep di dalam pikiran kita. Kita lalu melekat pada konsep-konsep itu. Kebahagiaan kita menjadi tergantung padanya. Jika sesuatu hidup atau dimulai, kita senang. Sebaliknya, jika sesuatu berakhir atau mati, kita lalu sedih. Ini adalah ilusi dari pikiran kita.
Ketika orang mati, tubuhnya menjadi bangkai di tanah. Rumput dan tanaman tumbuh subur di tanah yang berisi bangkai. Sapi lalu memakan rumput itu, lalu manusia memotong mati untuk lauk pauk di meja makannya. Inilah lingkaran kehidupan yang tak mengenal awal dan akhir, mati dan hidup.
Dalam arti ini, dapat juga dikatakan, bahwa seluruh alam ini adalah satu kesatuan. Tidak ada perbedaan. Semua terhubung, dan tidak hanya itu, semua adalah satu. Butiran pasir di pantai dan bintang raksasa yang berukuran ratusan kali lebih besar dari matahari adalah satu dan sama.
Argumen ini didukung oleh penemuan terbaru di dalam fisika. Komponen terkecil alam semesta adalah satu dan sama. Antara semut dan gajah tidak ada perbedaan, ketika kita melihat komponen terkecilnya. Perbedaan hanya tampak di mata dan pikiran kita.
Kesatuan ini ditunjang oleh harmoni di dalam alam semesta. Harmoni berarti segala sesuatu memiliki tatanan tertentu. Ada hukum-hukum alam yang mengatur segalanya. Tidak pernah ada chaos dan kekacauan, sebagaimana dibayangkan oleh manusia.
Sayangnya, banyak orang tak paham akan hal ini. Mereka menganggap, apa yang mereka punya akan tetap dan abadi. Mereka lalu melekat pada harta, ambisi dan nama besar. Mereka juga mengira, diri mereka abadi dan tetap. Tak heran, mereka hidup dalam penderitaan.
Mereka juga hidup dalam delusi. Mereka mengira, kematian adalah akhir. Lalu, mereka marah, takut serta sedih, ketika orang yang mereka sayangi meninggal. Mereka juga berusaha untuk bisa hidup sehat dan awet muda, serta berusaha untuk menghindari kematian. Usaha yang sejatinya sia-sia.
Banyak orang juga berambisi untuk memulai sesuatu. Lalu, mereka melekat pada ambisi dan pada sesuatu itu. Ambisi membutakan mata mereka. Padahal, itu pun juga sejatinya akan berakhir.
Orang yang hidup dalam delusi berarti hidup dalam penderitaan. Mereka melekat dan memegang erat hal-hal yang sejatinya terus berubah. Mereka mengira, bahwa pikiran dan konsep-konsep mereka adalah kenyataan. Mereka juga takut pada kematian dan usia tua.
Orang yang menderita akan cenderung membuat orang lain menderita. Penderitaan kolektif akan mendorong konflik antar kelompok. Perang antar negara juga bisa terjadi, karena penderitaan batin yang amat besar dari kedua belah pihak yang berperang. Perdamaian dunia tidak akan pernah tercapai, jika orang masih terjebak di dalam delusinya masing-masing.
Bagaimana kita membangun sikap hidup yang tepat dengan berpijak sebagaimana adanya? Bagaimana kita bisa melepaskan segala harapan kosong dan pikiran-pikiran delusional yang menutupi mata kita dari dunia apa adanya? Inilah pertanyaan yang menjadi pergulatan filsafat Yunani Kuno dan filsafat Timur. Bagaimana kita bisa melepaskan konsep-konsep pikiran kita, dan kemudian hidup mengalir mengikuti perubahan semesta?

Kebebasan sebagai eksistensi manusia, apa argumennya


  • Manusia hidup dalam "kemungkinan dapat", dan selalu berhadapan dengan pilihan berbeda yang memiliki bobot masing-masing
  • Adanya tanggung jawab. Bagaimana bila semua orang melakukan semaunya sendiri? Hanya mereka yang bebaslah yang dapat bertanggung jawab.
  • Makna perbuatan moral ada pada kebebasan


Sumber : http://hendrahosen.blogspot.co.id/2014/09/kebebasan.html

Jenis-jenis Kebebasan

  • Horizontal -> kesenangan, kesukaan, spontan, pertimbangan intelektual
  • Vertikal -> pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai
  • Eksistensial -> positif, lambang martabat manusia
  • Sosial -> terkait dengan orang lain

Jadi,jenis  kebebasan terdiri dari kebebasan horizontal, vertikal, eksistensial dan sosial.


Sumber : http://hendrahosen.blogspot.co.id/2014/09/kebebasan.html

Apa arti kebebasan ?


  • Pengertian umum
    • Kebebasan adalah kebebasan negatif, tidak ada hambatan (paksaan, halangan, aturan)
  • Pengertian khusus
    • Kebebasan merupakan penyempurnaan diri (filsafat proses Whitehead).
    • Kesanggupan memilih dan memutuskan
    • Kebebasan eksistensial: Manusia bebas memilih demi dirinya sendiri
    • Merupakan kemampuan untuk mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan.
  Jadi, dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan kebebasan merupakan sesuatu yang bebas memilih sesuai keinginan dirinya sendiri tanpa adanya paksaan.


Sumber: http://hendrahosen.blogspot.co.id/2014/09/kebebasan.html